Teknologi terbarukan di dunia saat ini memanglah menjanjikan sebuah peradaban baru yang mampu membuat mata kita terbelalak akan kemajuannya.
KabarJambi
Tuesday, February 9, 2021
Teknologi Terbaharukan Didunia Saat Ini
Tuesday, January 10, 2017
Muhasabah Sebelum Tidur
PERINGATAN
TULISAN INI TIDAK UNTUK DIBACA, TAPI
DI JADIKAN CONTOH
Sedeih
rasanya hati ini jika ada terucap kata orang tua, apalagi ayah yg telah
berpulang, sejak beberapa bulan yg lalu.
Ayah adalah
benteng kekuatanku disaat orang2 akan menghakimiku namanya menjadi raja dalam
hirukpikuk nya hakim jalanan.
Teringat betul kata sayangnya kepadaku di saat2 yg menegangkan ayah pernah
berucap “ tolong do’akan bapakmu nak, rajin2lah sholat tahajjud, dan jangan
meniru orang lain yang kuliahnya tidak bener-bener kuliah. Bapak sayang sekali
dengan kalian”(diterjemahkan). Saat itu aku berada di ujung kakinya.
Dan saat itu
jugalah aku teringat tiada penolong selain pertolongan dari sang pemilik tubuh
ini, ialah ALLAH SWT, saat itu aku bergegas pergi ke kamar madi untuk sholat, setelah
itu akupun berwudhu dan sholat, dan aku teringat betul do’a yang kupanjatkan
kepada-Nya “ Ya Allah jika telah tiba waktunya maka ambillah ia dengan keadaan
khusnul khatimah, jangan engkau ambil ia dengan keadaan suul khotimah” setelah
sholat aku pun menuju ayah, dan pada saat itu ayah ingin berbaring di
pangkuanku, akupun menurutinya sambil membacakan suratul yaasiin, tak lama ayah
gelisah terkadang duduk dan terkadang ia berbaring dipangkuanku sesekali ia
mengambil nafas yang dalam dan akupun melanjutkan bacaan al-qur’anku, saat itu
juga aku tak sadar sudah banyak orang yang hadir di dalam rumahku dan ikut
membacakan suratul yasin tak berselang lama, sampailah pada detik2 terakhir
ayah, saat itu juga ayah berucap “Biarkan anakku membaca (al-qur’an-suratul
yasin) ia mau menolongku” saat kata2 itu terucap dan aku tidak menyadarinya
adik2 dan keluarga yg lainnya menagis dengan sejadi-jadinya, dan akupun
ingatkan kepada ayah kalimat “LAILLAHAILLALLAH” di telinganya saat itu ayah susah untuk
berucap akupun memperingatinya “Jika tidak bisa lewat mulut lafazkan dalam hati
ayah”(di terjemahkan).
Air mataku mengalir dengan derasnya, hingga tak
tertahankan, akupun tidak tau apalagi, batas mana aku membaca surat yasin. Ayah
sesekali mengucapakn kalimat laillahaillallah sesekali terdengar keras dan
sesekali tidak terdengar aku melihat hanya lidahnya yang berucap.
Inilah
detik2 terakhir ayah pergi, perlahan2 nafas ayah mulai menghilang, aku terus
membacakan kalimat laillahaillallah di telinganya untuk ayah turuti, apalah
daya aku tak bisa mendengarkan kata-kata itu lagi dari bibir ayah, aku hanya melihat
lidahnya yang bergerak seperti mengucap laillahaillallah.
Beberapa saat kemudian ayah pergi meninggalkanku, dan keluargaku. Aku pun
terdiam dan menagis dengan menundukkan kepalaku, dan keluargaku yg lain menagis
dengan sejadi2nya sedang adikku hanya terdiam di pangkuan ibuku ia tak tau
apa2, ia hanyalah anak kecil yang masih polos, aku ambil adikku dari pangkuan
ibuku aku katakan dengan adikku “dek ayah telah tiada” sambil meneteskan air
mata aku terucap, namun adek ku tersenyum kepadaku, aku peluk ia dengan erat
dan aku pun berucap kembali “dek ayah telah tiada” barulah adikku terdiam,
tampa senyuman melihat ayahnya yang telah tiada.
Saat itu
kakak perempuanku blum sampai ke rumah dari tempat ia menuntut ilmu, dan saat2
orang2 dan keluarga mulai hening datanglah kakak perempuanku ia hanya bisa
melihat ayahnya yang telah terbujur kaku, dan tak berdaya apa2, saat itu juga
aku minta maaf kesalahan ku pada kakakku. Aku yakin ia lebih sedih dari padaku,
dan aku yakin ia ingin sekali melihat saat2 kepergian ayah, kakak perempuanku
adlaah orang yang selalu aku bangga2kan saat aku belajar, ia menjadi contoh
bagiku sebagai orang yang cerdas dalam
berpikir, intlek dalam ilmu.
Sekarang ayah telah tiada,..
Dan aku selalu berpesan kepada keluargaku untuk selalu saling mendo’akan
terutama untuk ayah tercinta.
Ayah...
Kata2mu tak pernah kulupakan kata2 itu selalu muncul dalam perjalananku,
sekarang engkau amanahkan keluarga untukku, sungguh begitu besar dan tingginya
wibawamu.
Sungguh
azzamku selalu meghantuiku, ingin rasanya cepat2 menyelesaikan studi ini, namun
tak dapat di pungkiri tantangan hawa nafsu yang selalu ada dalam bayanganku.
Ayah,..
Maafkan kami
anakmu yang selalu membangkang atas mu, selalu merasa lebih tinggi darimu, ayah
aku mencintaimu...
Tulisan ini
aku buat hanyalah untuk peringatan kepada semua yang merasa masih memiliki
orang tua, ini adalah sepenggal historis hidupku yang selalu terngiang dalam
pikiranku.
Lega rasanya
jika tulisan ini bisa bermanfaat bagi semuanya, agar kelak menjadi anak-anak
yang salih dan salihah dan selalu mendo’akan orang tua.
Mari sama-sama kita bacakan suratul fatihah untuk kedua ibu,bapak kita,
AL FATIHAH...
⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺
Labels:
ayah,
cinta,
ibu,
Muhasabah,
orang,
orang tua,
puisi,
puisi ayah,
puisi ayah ibu,
puisi ibu,
rindu,
sebelu,
tidur,
tua
Subscribe to:
Posts (Atom)