Tuesday, January 10, 2017

Muhasabah Sebelum Tidur

PERINGATAN
TULISAN INI TIDAK UNTUK DIBACA, TAPI DI JADIKAN CONTOH



Sedeih rasanya hati ini jika ada terucap kata orang tua, apalagi ayah yg telah berpulang, sejak beberapa bulan yg lalu.
Ayah adalah benteng kekuatanku disaat orang2 akan menghakimiku namanya menjadi raja dalam hirukpikuk nya hakim jalanan.

Teringat betul kata sayangnya kepadaku di saat2 yg menegangkan ayah pernah berucap “ tolong do’akan bapakmu nak, rajin2lah sholat tahajjud, dan jangan meniru orang lain yang kuliahnya tidak bener-bener kuliah. Bapak sayang sekali dengan kalian”(diterjemahkan). Saat itu aku berada di ujung kakinya.

Dan saat itu jugalah aku teringat tiada penolong selain pertolongan dari sang pemilik tubuh ini, ialah ALLAH SWT, saat itu aku bergegas pergi ke kamar madi untuk sholat, setelah itu akupun berwudhu dan sholat, dan aku teringat betul do’a yang kupanjatkan kepada-Nya “ Ya Allah jika telah tiba waktunya maka ambillah ia dengan keadaan khusnul khatimah, jangan engkau ambil ia dengan keadaan suul khotimah” setelah sholat aku pun menuju ayah, dan pada saat itu ayah ingin berbaring di pangkuanku, akupun menurutinya sambil membacakan suratul yaasiin, tak lama ayah gelisah terkadang duduk dan terkadang ia berbaring dipangkuanku sesekali ia mengambil nafas yang dalam dan akupun melanjutkan bacaan al-qur’anku, saat itu juga aku tak sadar sudah banyak orang yang hadir di dalam rumahku dan ikut membacakan suratul yasin tak berselang lama, sampailah pada detik2 terakhir ayah, saat itu juga ayah berucap “Biarkan anakku membaca (al-qur’an-suratul yasin) ia mau menolongku” saat kata2 itu terucap dan aku tidak menyadarinya adik2 dan keluarga yg lainnya menagis dengan sejadi-jadinya, dan akupun ingatkan kepada ayah kalimat “LAILLAHAILLALLAH”  di telinganya saat itu ayah susah untuk berucap akupun memperingatinya “Jika tidak bisa lewat mulut lafazkan dalam hati ayah”(di terjemahkan). 

Air mataku mengalir dengan derasnya, hingga tak tertahankan, akupun tidak tau apalagi, batas mana aku membaca surat yasin. Ayah sesekali mengucapakn kalimat laillahaillallah sesekali terdengar keras dan sesekali tidak terdengar aku melihat hanya lidahnya yang berucap.

Inilah detik2 terakhir ayah pergi, perlahan2 nafas ayah mulai menghilang, aku terus membacakan kalimat laillahaillallah di telinganya untuk ayah turuti, apalah daya aku tak bisa mendengarkan kata-kata  itu lagi dari bibir ayah, aku hanya melihat lidahnya yang bergerak seperti mengucap laillahaillallah.

Beberapa saat kemudian ayah pergi meninggalkanku, dan keluargaku. Aku pun terdiam dan menagis dengan menundukkan kepalaku, dan keluargaku yg lain menagis dengan sejadi2nya sedang adikku hanya terdiam di pangkuan ibuku ia tak tau apa2, ia hanyalah anak kecil yang masih polos, aku ambil adikku dari pangkuan ibuku aku katakan dengan adikku “dek ayah telah tiada” sambil meneteskan air mata aku terucap, namun adek ku tersenyum kepadaku, aku peluk ia dengan erat dan aku pun berucap kembali “dek ayah telah tiada” barulah adikku terdiam, tampa senyuman melihat ayahnya yang telah tiada.

Saat itu kakak perempuanku blum sampai ke rumah dari tempat ia menuntut ilmu, dan saat2 orang2 dan keluarga mulai hening datanglah kakak perempuanku ia hanya bisa melihat ayahnya yang telah terbujur kaku, dan tak berdaya apa2, saat itu juga aku minta maaf kesalahan ku pada kakakku. Aku yakin ia lebih sedih dari padaku, dan aku yakin ia ingin sekali melihat saat2 kepergian ayah, kakak perempuanku adlaah orang yang selalu aku bangga2kan saat aku belajar, ia menjadi contoh bagiku sebagai  orang yang cerdas dalam berpikir, intlek dalam ilmu.
Sekarang  ayah telah tiada,..

Dan aku selalu berpesan kepada keluargaku untuk selalu saling mendo’akan terutama untuk ayah tercinta.

Ayah...

Kata2mu tak pernah kulupakan kata2 itu selalu muncul dalam perjalananku, sekarang engkau amanahkan keluarga untukku, sungguh begitu besar dan tingginya wibawamu.
Sungguh azzamku selalu meghantuiku, ingin rasanya cepat2 menyelesaikan studi ini, namun tak dapat di pungkiri tantangan hawa nafsu yang selalu ada dalam bayanganku.


Ayah,..
Maafkan kami anakmu yang selalu membangkang atas mu, selalu merasa lebih tinggi darimu, ayah aku mencintaimu...
Tulisan ini aku buat hanyalah untuk peringatan kepada semua yang merasa masih memiliki orang tua, ini adalah sepenggal historis hidupku yang selalu terngiang dalam pikiranku.
Lega rasanya jika tulisan ini bisa bermanfaat bagi semuanya, agar kelak menjadi anak-anak yang salih dan salihah dan selalu mendo’akan orang tua.

Mari sama-sama kita bacakan suratul fatihah untuk kedua ibu,bapak kita,
AL FATIHAH... 

⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺⟺

1 comment:

  1. Subhanallah kak, sungguh mengharukan kisahmu... insyaallah tulisan ini sangat bermanfaat bagi para pembaca..
    tetap semangat, lanjutkan hidupmu, beliau sudah tenang di alam sana, insyaallah beliau berada diantara orang2 soleh,
    lanjutkan hidupmu dan jadilah pengganti ayahmu, menjadi kepala keluarga bagi ibu, kakak dan adik2mu.. #fighting

    ReplyDelete